Jumat, 12 Oktober 2012

PENGERTIAN PENDUDUK, KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN INDONESIA, DAN KEBUDAYAAN BARAT

1.   PENGERTIAN PENDUDUK
Unsur pembentuk suatu negara terdiri dari rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat, dan pengakuan dari negara lain. Rakyat termasuk syarat terbentuknya suatu negara yang bersifat konstututif atau mutlak. Rakyat suatu negara meliputu penduduk dan bukan penduduk (orang asing). Bukan penduduk adalah orang yang ada di wilayah suatu negara tetapi tidak bermaksud untuk menetap dan tinggal di negara yang bersangkutan. Sedangkan pengertian penduduk akan dijelaskan di bawah ini.
 Berikut ini adalah pengertian dan definisi penduduk:
 # JONNY PURBA
Penduduk adalah orang yang matranya sebagai diri pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu.
 # SRIJANTI & A. RAHMAN
Penduduk adalah orang yang mendiami suatu tempat dalam wilayah tertentu dengan tanpa melihat status kewarganegaraan yang dianut oleh orang tersebut.
 # AHMAD YANI & MAMAT RAHMAT
Penduduk merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu wilayah atau Negara.
 # WALUYO, SUWARDI, AGUNG FERYANTO, TRI HARHANTO
Penduduk merupakan potensi, tetapi sekaligus beban bagi suatu daerah.
 # P.N.H SIMANJUNTAK
Penduduk adalah mereka yang bertempat tinggal atau berdomisili di dalam suatu wilayah Negara.
 # Dr. KARTOMO
Penduduk adalah semua orang yang mendiami suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu, terlepas dari warga negara atau bukan warga Negara.
 # AA NURDIMAN
Penduduk adalah mereka yang menetap dan berdomisili dalam suatu Negara.
 # SRI MURTONO, HASSAN SURYONO, MARTIYONO
Penduduk adalah setiap orang yang berdomisili atau bertempat tinggal di dalam wilayah suatu negara dalam waktu yang cukup lama.

# TIM MATRIX MEDIA LITERATA
Penduduk adalah sekumpulan orang yang hidup dalam suatu wilayah geografis
 Sumber :  www.carapedia.com


2.  KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN INDONESIA
KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
A.Definisi kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat dalam bukunya, pengantar Ilmu Antropologi, istilah kebudayaan berasal dari kata Sanskerta, yaitu bentuk dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian , kebudayaan dapat diberi pengertian sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
Dalam bahasa inggris , kebudayaan disebut culture yang berasal dari kata latin colere yang berarti mengolah atau mengerjakan tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah atau mengubah alam .
B.Karakteristik kebudayaan
Kebudayaan adalah sejumlah cita-cita nilai dan standar perilaku sehingga apa yang dilakukan dan diperbuat para individu dapat dipahami oleh kelompoknya. Karena memiliki kebudayaan yang sama ,  orang yang satu dapat meramalkan perbuatan orang lain dalam situasi tertentu dan mengambil tindakan yang sesuai.
C.Unsur-unsur kebudayaan
Dengan mangambil intisari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, misalnya oleh Koentjaraningrat dalam bukunya “pengantar ilmu antropologi” mengemukakan tentang tujuh unsure tersebut.
1.Bahasa
2.Sistem pengetahuan
3.Organisasi social
4.Sistem peralatan hidup dan teknologi
5.Sistem ekonomi dan mata pencaharian
6.Sistem religi
7.Kesenian
D.Konsep Penting Dinamika Kebudayaan
1.Internalisasi
individu sehingga alam pikiran, sikap, dan perilakunya selalu sesuai dengan kebudayaan masyarakatnya. Dalam proses ini kadang-kadang terjadi perang batin , karena budaya yang ada dinilai sudah usang ,  ketinggalan zaman, atau tidak rasional, tetapi ia sebagai warga harus mengikuti kelakuan kolektif(konformitas).
2.Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang diajarkan. Pada kelompok pergaulan hidup, timbulnya dorongan-dorongan yang membuat individu berusaha menyesuaikan diri mematuhi norma dalam kelompok disebabkan juga oleh adanya unsur psikologis, biologis, dan sosiologis dalam rangka pembentukan kepribadian.
3.Enkulturasi
Dalam proses ini, seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, system, norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Enkulturasi kebudayaan dapat berasal dari budaya-budaya asing melalui kolonisasi kebudayaan. Proses migrasi besar-besaran mempermudah berlangsungnya akulturasi.
E.Dinamika Unsur-unsur Kebudayaan
1.Evolusi Sosial Budaya
Suatu perubahan kebudayaan disebut evolusi apabila terjadi secara alami tanpa perencanaan dari masyarakat itu sendiri maupun pihak-pihak lain di luar masyarakat.
Ciri-ciri evolusi social budaya, antara lain:
a.Perubahan relatif lamban berupa perubahan yang bersifat progesif maupun regresif.
b.Terjadi tanpa direncanakan.
c.Faktor-faktor alam sangat dominan dalam proses perubahan tersebut.
d.Terjadi dalam kurun waktu yang sangat panjang hingga menampilkan perubahan-perubahan yang beraneka ragam.
e.Perubahan bersifat menyeluruh dalam berbagai segi bentuk kehidupan.
2.Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok lain atau dari masyarakat ke masyarakat lain.Jenis-jenis difusi,yaitu Difusi intramasyarakat dan Difusi antarmasyarakat.
3.Akulturasi
Akulturasi(cultural contac) adalah pencampuran dua kebudayaan atau lebih yang terjadi secara damai.Apabila proses akulturasi berjalan dengan baik ,maka akan menghasilkan integrasi unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri sehingga unsur-unsur kebudayaan asing lama-kelamaan akan dirasakan sebagai unsur kebudayaan sendiri.
4.Asimilasi
Asimilasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang menjadi satu.Proses asimilasi ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antar orang atau kelompok-kelompok manusia.Pada umumnya ,asimilasi berlangsung di antara golongan mayoritas dan golongan minoritas.
5.Inovasi
Inovasi adalah suatu proses perubahan dalam penggunaan sumber alam,energy,modal,pengaturan tenaga kerja,dan penggunaan teknologi yang menyebabkan adanya system produksi dan produk-produk baru.
Inovasi berkaitan dengan pembaruan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan unsur teknologi dan ekonom

3.  Kebudayaan Barat

Dampak Penetrasi Budaya Barat Terhadap Gaya Hidup Pemuda

Masuknya budaya barat ke Indonesia sedikit banyak telah memberikan dampak bagi kita semua,  tidak terkecuali kaum pemuda ataupun remaja. Khusus pada satu decade terakhir,  kencangnya penetrasi budaya barat ke Indonesia memberikan suatu efek percepatan pengaruh yang ditimbulkan terhadap sikap,  perilaku,  dan gaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya para remaja yang dengan cepat merespon keberadaan teknologi dan informasi. Akses yang begitu cepat dengan adanya teknologi dan informasi membuat masuknya budaya barat ke negara ini juga semakin mudah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa secara langsung maupun tidak keberadaan teknologi telah mempercepat akses masuknya budaya barat ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Dan dengan keberadaan teknologi pula yang berkembang pesat pada abad ini – remaja-remaja ataupun pemuda Indonesia dapat dengan mudah mengetahui dan juga menerima masuknya budaya barat. Yang mana hal tersebut telah menimbulkan dampak  baik positif maupun negative  terhadap gaya hidup remaja ataupun pemuda kita saat ini.
Dampak positif dari masuknya budaya barat bagi para pemuda kita adalah bertambahnya wawasan mereka terhadap kebudayaan-kebudayaan asing, khususnya barat. Akan tetapi dibandingkan dampak positif, terdapat lebih banyak dampak negative yang saat ini telah mempengaruhi gaya hidup remaja kita. Berikut ini adalah beberapa data dan fakta yang memaparkan efek negative  yang jamak terjadi –dari masuknya kebudayaan barat.
Kebudayaan barat masuk ke Indonesia dengan begitu cepatnya melalui akses teknologi dan informasi. Hal tersebut – seperti telah tercantum diatas – semakin mempermudah remaja ataupun pemuda kita untuk mengetahui kebudayaan yang masuk tersebut. Yang menjadi sebuah persoalan ialah para remaja kita tidak melakukan filterisasi terhadap hal-hal asing yang mereka ketahui, akan tetapi tanpa berpikir panjang mereka langsung menjiplak dan menerapkan nila-nilai kebudayaan asing yang masuk tersebut kedalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti minum - minuman keras, seks bebas, pemakaian obat-obatan terlarang dan hal-hal negative lainnya.  Dan yang lebih anehnya, budaya tersebut telah diikuti oleh sebagian remaja Indonesia. Fakta telah menunjukkan bahwa dalam satu decade ini sedikitnya Jutaan remaja kita telah menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Selain itu Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang mengawatirkan. Data-data yang lain juga menyebutkan bahwal lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup bebas telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Rasionalitas Pandangan Kebudayaan Barat Sebagai Pembawa Dampak Negatif
Terdapat beberapa alasan atau rasionalitas  yang menjelaskan mengapa kebudayaan barat dipandang sebagai kebudayaan yang banyak membawa dampak negative terhadap kebudayaan-kebudayaan lain serta orang-orang yang menerima dan terlibat langsung dengan budaya tersebut.
Pertama, Kebudayaan Barat adalah sebuah kebudayaan yang dipromosikan lewat globalisasi. Sebuah kebudayaan yang ternyata bersifat kontradiktif antara unsur kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut diperkuat dengan adanya beberapa hal sebagai berikut. (a). adanya usaha pengeliminiran antar unsur kebudayaan. Kondisi ini dapat dilihat dari peperangan yang terjadi antara keyakinan dengan sains, keyakinan dengan filsafat, keyakinan dengan seni, keyakinan dengan ekonomi, politik dengan moralitas, moralitas dengan ekonomi, dan lain-lain. (b). adanya usaha untuk mengisolasi unsur kebudayaan yang satu dari unsur kebudayaan lain. Mengisolasi unsur kebudayaan yang satu dengan yang lain, sebenarnya merupakan konsekuensi dari eklektis-kontradiktifnya kebudayaan Barat – karena unsur-unsur kebudayaannya tidak berhubungan bahkan bertentangan satu sama lain. Usaha untuk mengisolasi ini adalah sebuah hal yang sudah kita ketahui, lewat ungkapan-ungkapan, seperti seni untuk seni (seni murni), sains untuk sains, politik untuk politik, ekonomi untuk ekonomi, dan hukum untuk hukum. Jika ditelusuri, penyebab kondisi tersebut adalah sekularisme.  (c). Adanya ideologisasi di dalam kebudayaan. Adanya ideologisasi ini, dapat dilihat dari penggunaan akhiran “-isme”. Misalnya, materialisme, idealisme, relativisme, empirisme, rasionalisme, positivisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme, liberalisme, feminisme, hedonisme, dan masih banyak yang lainnya. Ideologisasi ini pada dasarnya terjadi karena melihat realitas secara sebelah mata dan akhirnya melakukan reduksi yang menyebabkan masing-masing di dalam masing-masing unsur kebudayaan terdapat banyak ideologi. Liberalisme adalah sebuah ideologi yang liberal mulai dari sisi ontologis hingga etis. Dengan kontradiksi yang dibawanya, maka amatlah riskan jika kebudayaan barat masuk ke Indonesia, apalagi jika para remaja ataupun pemuda kita tidak cukup mampu dalam melakukan filterisasi kebudayaan.
Kedua, ‘kebudayaan’ adalah salah satu alat imperialisme barat di era modern. Hal ini terlihat jelas dari adanya upaya-upaya pengrusakan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan pribumi bangsa-bangsa lain. Hal tersebut dapat dilihat dalam bentuk slogan-slogan menyesatkan, seperti sistim dunia modern dan globalisasi. Dengan alasan bahwa dalam iklim baru dunia saat ini, setiap negara bergerak ke arah kesamaan dan globalisme, negara-negara Barat berusaha menyamakan semua kebudayaan. Akan tetapi peleburan kebudayaan ini, tak lain merupakan upaya untuk memusnahkan ajaran dan keyakinan agama serta identitas-identitas nasional di negara-negara berkembang, dan untuk menegakkan kekuasaan kebudayaan materialis Barat di seluruh dunia. Dengan kata lain, Barat tidak bisa menerima variasi kebudayaan yang ada saat ini di dunia, dan berniat melemahkan, atau memusnahkan kebudayaan-kebudayaan pribumi semua negara dengan berbagai cara. Diantara bukti terpenting serangan kebudayaan Barat terhadap seluruh kebudayaan dan agama ialah pemusnahan kekuatan mereka dalam menghadapi dominasi politik, ekonomi dan militer negara-negara Barat, terutama AS. Kebudayaan-kebudayaan independen dan agama-agama penentang kezaliman, selalu berperan bagaikan benteng yang kokoh, yang selalu menghasung rakyat untuk menghadapi serangan para imperialis. Sebagaimana dapat disaksikan, dengan mengambil inspirasi dari ajaran agama, terutama agama Islam, atau dalam rangka mempertahankan nilai-nilai nasionalisme, suatu bangsa bangkit menentang kekuatan-kekuatan asing.
Alasan lain usaha Barat untuk membasmi kebudayaan-kebudayaan lain dan ajaran agama ialah watak penjajah mereka. Saat ini liberalisme Barat berperan sebagai alasan dan pendorong politik-politik permusuhan Barat terhadap bangsa-bangsa lain. Meluasnya berbagai macam idiologi seperti materialisme, individualisme, freesex, dan berbagai macam lainnya di Barat, telah menyebabkan mereka tidak lagi berpikir sehat dalam berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain, tapi mereka berusaha menguasai, memaksakan kebudayaan mereka dan menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan lain. Terutama sekali bahwa idelogi liberalisme Barat, menyebarkan pandangan materialisme dan atheisme, yang jelas bertentangan dengan agama dan kebudayaan asli berbagai bangsa. Media-media massa Barat menyebut nilai-nilai manusiawi dan agama serta kebudayaan Timur sebagai penyebab kemunduran dan berlawanan dengan kemajuan. Sebaliknya, liberalisme Barat mereka unggulkan sebagai idiologi moderen dan menyebutnya sebagai batas akhir perjalanan sejarah. Hal ini disampaikan oleh Francis Fukuyama, pemikir AS di awal dekade 1990.
Teori Benturan Peradaban yang dipaparkan oleh Samuel Huntington, pemikir lain dari AS, menunjukkan bahwa para ahli teori Barat, dalam rangka menyukseskan dan memaksakan pandangan-pandangan mereka, mencanangkan perang antara peradaban dan kebudayaan Barat melawan peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa lain. Berbagai media massa Barat pun melancarkan propaganda luas terus menerus, menyerang nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan nasionalisme, seperti perlawanan menentang penjajahan, perjuangan menegakkan keadilan, perdamaian dan sebagainya. Serangan propaganda ini dilakukan dengan metode-metode yang sangat halus, sehingga tidak terasa oleh masyarakat pada umumnya. Media-media ini, dalam berbagai filem, berita dan laporan, secara tidak langsung, menyerang dan melecehkan kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa lain. Pelecehan terhadap kesucian-kesucian agama dan kehormatan nasional, termasuk diantara metode lain yang digunakan oleh media-media Barat, dengan tujuan merendahkan kesucian-kesucian tersebut dalam pandangan masyarakat umum.
Serangan terhadap kebudayaan negara-negara berkembang melalui jaringan global internet dan permainan-permainan komputer, juga banyak dilakukan. Bahkan lambang dan simbol-simbol di pakaian dan peralatan-peralatan hidup, iklan-iklan perdagangan dan hal-hal lain yang dikemas untuk menggambarkan kesejahteraan dan kemewahan, juga dimanfaatkan sebagai cara untuk menyebarluaskan kebudayaan Barat dan mengikis keyakinan-keyakinan agama dan nasionalisme bangsa lain. Dalam proses propaganda ini, masalah hubungan seks ilegal dan dekadensi moral, mendapat tempat istimewa. Karena para pengelola media-media tersebut mengetahui dengan baik bahwa agama-agama dan adat istiadat Timur menentang kebebasan seks dan amoralisme. Untuk itu menyebarnya budaya negatif seperti ini di dunia Timur, akan melemahkan negara-negara di kawasan ini.
Dalam masalah ini, serangan-serangan kebudayaan Barat, menjadikan generasi muda sebagai sasaran utamanya. Menampilkan pahlawan-pahlawan palsu sebagai teladan, merupakan metode lain media massa Barat untuk menyerang kebudayaan bangsa lain. Setiap bangsa berbudaya, pasti memiliki pahlawan-pahlawan tersendiri di dalam sejarah mereka. Sementara pahlawan-pahlawan yang dibuat oleh media Barat adalah pahlawan-pahlawan palsu, tidak langgeng, bahkan sebagian besarnya membawa watak-watak negatif, seperti suka kekerasan, pengumbar hawa nafsu seksual dan sebagainya. Jika kalangan remaja dan pemuda suatu bangsa telah menerima pahlawan-pahlawan palsu itu sebagai teladan dan model mereka, berarti mereka telah terjatuh ke perangkap musuh dan akan ikut membantu mereka memusnahkan kebudayaan pribumi dan menyebarkan nilai-nilai destruktif di tengah masyarakat.
Konsumerisme termasuk fenomena lain yang menjadi dasar kebudayaan Barat saat ini. Sementara di Timur, penghematan, konsumsi dengan cara yang benar dan seimbang, dipandang sebagai nilai positif. Akan tetapi media-media super power Barat, dengan menggunakan berbagai fasilitasnya, berusaha menanamkan watak konsumerisme seluas mungkin di tengah masyarakat Timur. Terutama sekali, yang demikian itu sangat diperlukan oleh para investor Barat, untuk menjual produk-produk mereka. Untuk menyukseskan tujuan mereka ini, mereka bekerjasama dengan para pengelola media massa. Dengan kata lain, media-media massa Barat terus menerus mempropagandakan kepada masyarakat di negara-negara berkembang, janji untuk memenuhi tuntutan materi mereka dan berusaha meyakinkan bahwa kemajuan dan kesejahteraan setiap orang ialah dengan mengikuti gaya hidup Barat, dan mengonsumsi sebanyak mungkin produk-produk mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar