1. PENGERTIAN PENDUDUK
Unsur pembentuk
suatu negara terdiri dari rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat, dan
pengakuan dari negara lain. Rakyat termasuk syarat terbentuknya suatu negara
yang bersifat konstututif atau mutlak. Rakyat suatu negara meliputu penduduk
dan bukan penduduk (orang asing). Bukan penduduk adalah orang yang ada di
wilayah suatu negara tetapi tidak bermaksud untuk menetap dan tinggal di negara
yang bersangkutan. Sedangkan pengertian penduduk akan dijelaskan di bawah ini.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi
penduduk:
# JONNY PURBA
Penduduk adalah
orang yang matranya sebagai diri pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat,
warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat
dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu.
# SRIJANTI & A. RAHMAN
Penduduk adalah
orang yang mendiami suatu tempat dalam wilayah tertentu dengan tanpa melihat
status kewarganegaraan yang dianut oleh orang tersebut.
# AHMAD YANI & MAMAT RAHMAT
Penduduk
merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu wilayah atau Negara.
# WALUYO, SUWARDI, AGUNG FERYANTO, TRI
HARHANTO
Penduduk
merupakan potensi, tetapi sekaligus beban bagi suatu daerah.
# P.N.H SIMANJUNTAK
Penduduk adalah
mereka yang bertempat tinggal atau berdomisili di dalam suatu wilayah Negara.
# Dr. KARTOMO
Penduduk adalah
semua orang yang mendiami suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu, terlepas
dari warga negara atau bukan warga Negara.
# AA NURDIMAN
Penduduk adalah
mereka yang menetap dan berdomisili dalam suatu Negara.
# SRI MURTONO, HASSAN SURYONO, MARTIYONO
Penduduk adalah
setiap orang yang berdomisili atau bertempat tinggal di dalam wilayah suatu
negara dalam waktu yang cukup lama.
# TIM MATRIX
MEDIA LITERATA
Penduduk adalah
sekumpulan orang yang hidup dalam suatu wilayah geografis
2. KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN INDONESIA
KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
A.Definisi
kebudayaan
Menurut
Koentjaraningrat dalam bukunya, pengantar Ilmu Antropologi, istilah kebudayaan
berasal dari kata Sanskerta, yaitu bentuk dari kata budhi yang berarti budi
atau akal. Dengan demikian , kebudayaan dapat diberi pengertian sebagai hal-hal
yang bersangkutan dengan akal.
Dalam bahasa
inggris , kebudayaan disebut culture yang berasal dari kata latin colere yang
berarti mengolah atau mengerjakan tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang
arti culture sebagai daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah
atau mengubah alam .
B.Karakteristik
kebudayaan
Kebudayaan adalah
sejumlah cita-cita nilai dan standar perilaku sehingga apa yang dilakukan dan
diperbuat para individu dapat dipahami oleh kelompoknya. Karena memiliki
kebudayaan yang sama , orang yang satu
dapat meramalkan perbuatan orang lain dalam situasi tertentu dan mengambil
tindakan yang sesuai.
C.Unsur-unsur
kebudayaan
Dengan mangambil
intisari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, misalnya oleh
Koentjaraningrat dalam bukunya “pengantar ilmu antropologi” mengemukakan
tentang tujuh unsure tersebut.
1.Bahasa
2.Sistem
pengetahuan
3.Organisasi
social
4.Sistem
peralatan hidup dan teknologi
5.Sistem ekonomi
dan mata pencaharian
6.Sistem religi
7.Kesenian
D.Konsep
Penting Dinamika Kebudayaan
1.Internalisasi
individu sehingga
alam pikiran, sikap, dan perilakunya selalu sesuai dengan kebudayaan
masyarakatnya. Dalam proses ini kadang-kadang terjadi perang batin , karena
budaya yang ada dinilai sudah usang ,
ketinggalan zaman, atau tidak rasional, tetapi ia sebagai warga harus
mengikuti kelakuan kolektif(konformitas).
2.Sosialisasi
Sosialisasi
adalah proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang
diajarkan. Pada kelompok pergaulan hidup, timbulnya dorongan-dorongan yang
membuat individu berusaha menyesuaikan diri mematuhi norma dalam kelompok
disebabkan juga oleh adanya unsur psikologis, biologis, dan sosiologis dalam
rangka pembentukan kepribadian.
3.Enkulturasi
Dalam proses ini,
seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya
dengan adat, system, norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Enkulturasi
kebudayaan dapat berasal dari budaya-budaya asing melalui kolonisasi
kebudayaan. Proses migrasi besar-besaran mempermudah berlangsungnya akulturasi.
E.Dinamika
Unsur-unsur Kebudayaan
1.Evolusi Sosial
Budaya
Suatu perubahan
kebudayaan disebut evolusi apabila terjadi secara alami tanpa perencanaan dari
masyarakat itu sendiri maupun pihak-pihak lain di luar masyarakat.
Ciri-ciri evolusi
social budaya, antara lain:
a.Perubahan
relatif lamban berupa perubahan yang bersifat progesif maupun regresif.
b.Terjadi tanpa
direncanakan.
c.Faktor-faktor
alam sangat dominan dalam proses perubahan tersebut.
d.Terjadi dalam
kurun waktu yang sangat panjang hingga menampilkan perubahan-perubahan yang
beraneka ragam.
e.Perubahan
bersifat menyeluruh dalam berbagai segi bentuk kehidupan.
2.Difusi
Difusi adalah
proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok lain atau dari
masyarakat ke masyarakat lain.Jenis-jenis difusi,yaitu Difusi intramasyarakat
dan Difusi antarmasyarakat.
3.Akulturasi
Akulturasi(cultural
contac) adalah pencampuran dua kebudayaan atau lebih yang terjadi secara
damai.Apabila proses akulturasi berjalan dengan baik ,maka akan menghasilkan
integrasi unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri
sehingga unsur-unsur kebudayaan asing lama-kelamaan akan dirasakan sebagai
unsur kebudayaan sendiri.
4.Asimilasi
Asimilasi adalah
percampuran dua kebudayaan atau lebih yang menjadi satu.Proses asimilasi ditandai
dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antar
orang atau kelompok-kelompok manusia.Pada umumnya ,asimilasi berlangsung di
antara golongan mayoritas dan golongan minoritas.
5.Inovasi
Inovasi adalah
suatu proses perubahan dalam penggunaan sumber alam,energy,modal,pengaturan
tenaga kerja,dan penggunaan teknologi yang menyebabkan adanya system produksi
dan produk-produk baru.
Inovasi berkaitan
dengan pembaruan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan unsur teknologi dan
ekonom
Sumber : www.regieranjana.blogspot.com
3. Kebudayaan Barat
Dampak Penetrasi
Budaya Barat Terhadap Gaya Hidup Pemuda
Masuknya budaya barat ke Indonesia sedikit banyak telah
memberikan dampak bagi kita semua, tidak
terkecuali kaum pemuda ataupun remaja. Khusus pada satu decade terakhir, kencangnya penetrasi budaya barat ke Indonesia
memberikan suatu efek percepatan pengaruh yang ditimbulkan terhadap sikap, perilaku, dan gaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya
para remaja yang dengan cepat merespon keberadaan teknologi dan informasi. Akses
yang begitu cepat dengan adanya teknologi dan informasi membuat masuknya budaya
barat ke negara ini juga semakin mudah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
secara langsung maupun tidak keberadaan teknologi telah mempercepat akses
masuknya budaya barat ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Dan dengan
keberadaan teknologi pula yang berkembang pesat pada abad ini – remaja-remaja
ataupun pemuda Indonesia dapat dengan mudah mengetahui dan juga menerima
masuknya budaya barat. Yang mana hal tersebut telah menimbulkan dampak baik positif maupun negative terhadap gaya hidup remaja ataupun pemuda kita
saat ini.
Dampak positif dari masuknya budaya barat bagi para
pemuda kita adalah bertambahnya wawasan mereka terhadap kebudayaan-kebudayaan
asing, khususnya barat. Akan tetapi dibandingkan dampak positif, terdapat lebih
banyak dampak negative yang saat ini telah mempengaruhi gaya hidup remaja kita.
Berikut ini adalah beberapa data dan fakta yang memaparkan efek negative yang jamak terjadi –dari masuknya kebudayaan
barat.
Kebudayaan barat masuk ke Indonesia dengan begitu
cepatnya melalui akses teknologi dan informasi. Hal tersebut – seperti telah
tercantum diatas – semakin mempermudah remaja ataupun pemuda kita untuk
mengetahui kebudayaan yang masuk tersebut. Yang menjadi sebuah persoalan ialah
para remaja kita tidak melakukan filterisasi terhadap hal-hal asing yang mereka
ketahui, akan tetapi tanpa berpikir panjang mereka langsung menjiplak dan
menerapkan nila-nilai kebudayaan asing yang masuk tersebut kedalam kehidupan
sehari-hari mereka, seperti minum - minuman keras, seks bebas, pemakaian
obat-obatan terlarang dan hal-hal negative lainnya. Dan yang lebih anehnya, budaya tersebut telah
diikuti oleh sebagian remaja Indonesia. Fakta telah menunjukkan bahwa dalam
satu decade ini sedikitnya Jutaan remaja kita telah menjadi korban perusahaan
nikotin-rokok. Selain itu Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba
(BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008).
Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang
mengawatirkan. Data-data yang lain juga menyebutkan bahwal lebih dari 60%
remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup bebas
telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Rasionalitas Pandangan Kebudayaan Barat Sebagai Pembawa
Dampak Negatif
Terdapat beberapa alasan atau rasionalitas yang menjelaskan mengapa kebudayaan barat dipandang
sebagai kebudayaan yang banyak membawa dampak negative terhadap
kebudayaan-kebudayaan lain serta orang-orang yang menerima dan terlibat
langsung dengan budaya tersebut.
Pertama, Kebudayaan Barat adalah sebuah kebudayaan yang
dipromosikan lewat globalisasi. Sebuah kebudayaan yang ternyata bersifat
kontradiktif antara unsur kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Hal
tersebut diperkuat dengan adanya beberapa hal sebagai berikut. (a). adanya
usaha pengeliminiran antar unsur kebudayaan. Kondisi ini dapat dilihat dari
peperangan yang terjadi antara keyakinan dengan sains, keyakinan dengan
filsafat, keyakinan dengan seni, keyakinan dengan ekonomi, politik dengan
moralitas, moralitas dengan ekonomi, dan lain-lain. (b). adanya usaha untuk
mengisolasi unsur kebudayaan yang satu dari unsur kebudayaan lain. Mengisolasi
unsur kebudayaan yang satu dengan yang lain, sebenarnya merupakan konsekuensi
dari eklektis-kontradiktifnya kebudayaan Barat – karena unsur-unsur
kebudayaannya tidak berhubungan bahkan bertentangan satu sama lain. Usaha untuk
mengisolasi ini adalah sebuah hal yang sudah kita ketahui, lewat
ungkapan-ungkapan, seperti seni untuk seni (seni murni), sains untuk sains,
politik untuk politik, ekonomi untuk ekonomi, dan hukum untuk hukum. Jika ditelusuri,
penyebab kondisi tersebut adalah sekularisme.
(c). Adanya ideologisasi di dalam kebudayaan. Adanya ideologisasi ini,
dapat dilihat dari penggunaan akhiran “-isme”. Misalnya, materialisme,
idealisme, relativisme, empirisme, rasionalisme, positivisme, kapitalisme,
sosialisme, komunisme, liberalisme, feminisme, hedonisme, dan masih banyak yang
lainnya. Ideologisasi ini pada dasarnya terjadi karena melihat realitas secara
sebelah mata dan akhirnya melakukan reduksi yang menyebabkan masing-masing di
dalam masing-masing unsur kebudayaan terdapat banyak ideologi. Liberalisme
adalah sebuah ideologi yang liberal mulai dari sisi ontologis hingga etis.
Dengan kontradiksi yang dibawanya, maka amatlah riskan jika kebudayaan barat
masuk ke Indonesia, apalagi jika para remaja ataupun pemuda kita tidak cukup
mampu dalam melakukan filterisasi kebudayaan.
Kedua, ‘kebudayaan’ adalah salah satu alat imperialisme
barat di era modern. Hal ini terlihat jelas dari adanya upaya-upaya pengrusakan
nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan pribumi bangsa-bangsa lain. Hal tersebut
dapat dilihat dalam bentuk slogan-slogan menyesatkan, seperti sistim dunia
modern dan globalisasi. Dengan alasan bahwa dalam iklim baru dunia saat ini,
setiap negara bergerak ke arah kesamaan dan globalisme, negara-negara Barat
berusaha menyamakan semua kebudayaan. Akan tetapi peleburan kebudayaan ini, tak
lain merupakan upaya untuk memusnahkan ajaran dan keyakinan agama serta
identitas-identitas nasional di negara-negara berkembang, dan untuk menegakkan
kekuasaan kebudayaan materialis Barat di seluruh dunia. Dengan kata lain, Barat
tidak bisa menerima variasi kebudayaan yang ada saat ini di dunia, dan berniat
melemahkan, atau memusnahkan kebudayaan-kebudayaan pribumi semua negara dengan
berbagai cara. Diantara bukti terpenting serangan kebudayaan Barat terhadap
seluruh kebudayaan dan agama ialah pemusnahan kekuatan mereka dalam menghadapi
dominasi politik, ekonomi dan militer negara-negara Barat, terutama AS.
Kebudayaan-kebudayaan independen dan agama-agama penentang kezaliman, selalu
berperan bagaikan benteng yang kokoh, yang selalu menghasung rakyat untuk
menghadapi serangan para imperialis. Sebagaimana dapat disaksikan, dengan
mengambil inspirasi dari ajaran agama, terutama agama Islam, atau dalam rangka
mempertahankan nilai-nilai nasionalisme, suatu bangsa bangkit menentang
kekuatan-kekuatan asing.
Alasan lain usaha Barat untuk membasmi
kebudayaan-kebudayaan lain dan ajaran agama ialah watak penjajah mereka. Saat
ini liberalisme Barat berperan sebagai alasan dan pendorong politik-politik
permusuhan Barat terhadap bangsa-bangsa lain. Meluasnya berbagai macam idiologi
seperti materialisme, individualisme, freesex, dan berbagai macam lainnya di
Barat, telah menyebabkan mereka tidak lagi berpikir sehat dalam berinteraksi
dengan bangsa-bangsa lain, tapi mereka berusaha menguasai, memaksakan
kebudayaan mereka dan menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan lain. Terutama sekali
bahwa idelogi liberalisme Barat, menyebarkan pandangan materialisme dan
atheisme, yang jelas bertentangan dengan agama dan kebudayaan asli berbagai
bangsa. Media-media massa Barat menyebut nilai-nilai manusiawi dan agama serta
kebudayaan Timur sebagai penyebab kemunduran dan berlawanan dengan kemajuan.
Sebaliknya, liberalisme Barat mereka unggulkan sebagai idiologi moderen dan
menyebutnya sebagai batas akhir perjalanan sejarah. Hal ini disampaikan oleh
Francis Fukuyama, pemikir AS di awal dekade 1990.
Teori Benturan Peradaban yang dipaparkan oleh Samuel
Huntington, pemikir lain dari AS, menunjukkan bahwa para ahli teori Barat,
dalam rangka menyukseskan dan memaksakan pandangan-pandangan mereka,
mencanangkan perang antara peradaban dan kebudayaan Barat melawan peradaban dan
kebudayaan bangsa-bangsa lain. Berbagai media massa Barat pun melancarkan
propaganda luas terus menerus, menyerang nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan
nasionalisme, seperti perlawanan menentang penjajahan, perjuangan menegakkan
keadilan, perdamaian dan sebagainya. Serangan propaganda ini dilakukan dengan
metode-metode yang sangat halus, sehingga tidak terasa oleh masyarakat pada
umumnya. Media-media ini, dalam berbagai filem, berita dan laporan, secara
tidak langsung, menyerang dan melecehkan kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa
lain. Pelecehan terhadap kesucian-kesucian agama dan kehormatan nasional,
termasuk diantara metode lain yang digunakan oleh media-media Barat, dengan
tujuan merendahkan kesucian-kesucian tersebut dalam pandangan masyarakat umum.
Serangan terhadap kebudayaan negara-negara berkembang
melalui jaringan global internet dan permainan-permainan komputer, juga banyak
dilakukan. Bahkan lambang dan simbol-simbol di pakaian dan peralatan-peralatan
hidup, iklan-iklan perdagangan dan hal-hal lain yang dikemas untuk
menggambarkan kesejahteraan dan kemewahan, juga dimanfaatkan sebagai cara untuk
menyebarluaskan kebudayaan Barat dan mengikis keyakinan-keyakinan agama dan
nasionalisme bangsa lain. Dalam proses propaganda ini, masalah hubungan seks
ilegal dan dekadensi moral, mendapat tempat istimewa. Karena para pengelola
media-media tersebut mengetahui dengan baik bahwa agama-agama dan adat istiadat
Timur menentang kebebasan seks dan amoralisme. Untuk itu menyebarnya budaya
negatif seperti ini di dunia Timur, akan melemahkan negara-negara di kawasan
ini.
Dalam masalah ini, serangan-serangan kebudayaan Barat,
menjadikan generasi muda sebagai sasaran utamanya. Menampilkan
pahlawan-pahlawan palsu sebagai teladan, merupakan metode lain media massa
Barat untuk menyerang kebudayaan bangsa lain. Setiap bangsa berbudaya, pasti
memiliki pahlawan-pahlawan tersendiri di dalam sejarah mereka. Sementara
pahlawan-pahlawan yang dibuat oleh media Barat adalah pahlawan-pahlawan palsu,
tidak langgeng, bahkan sebagian besarnya membawa watak-watak negatif, seperti
suka kekerasan, pengumbar hawa nafsu seksual dan sebagainya. Jika kalangan
remaja dan pemuda suatu bangsa telah menerima pahlawan-pahlawan palsu itu
sebagai teladan dan model mereka, berarti mereka telah terjatuh ke perangkap
musuh dan akan ikut membantu mereka memusnahkan kebudayaan pribumi dan
menyebarkan nilai-nilai destruktif di tengah masyarakat.
Konsumerisme termasuk fenomena lain yang menjadi dasar
kebudayaan Barat saat ini. Sementara di Timur, penghematan, konsumsi dengan
cara yang benar dan seimbang, dipandang sebagai nilai positif. Akan tetapi
media-media super power Barat, dengan menggunakan berbagai fasilitasnya,
berusaha menanamkan watak konsumerisme seluas mungkin di tengah masyarakat
Timur. Terutama sekali, yang demikian itu sangat diperlukan oleh para investor
Barat, untuk menjual produk-produk mereka. Untuk menyukseskan tujuan mereka
ini, mereka bekerjasama dengan para pengelola media massa. Dengan kata lain,
media-media massa Barat terus menerus mempropagandakan kepada masyarakat di
negara-negara berkembang, janji untuk memenuhi tuntutan materi mereka dan
berusaha meyakinkan bahwa kemajuan dan kesejahteraan setiap orang ialah dengan
mengikuti gaya hidup Barat, dan mengonsumsi sebanyak mungkin produk-produk
mereka.
Sumber : www.sudarsono24.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar